Persepsi negatif dalam otak sebabkan persulit pencarian jodoh.

Masih dalam suasana menyambut Valentine Day 14 FEB yl, sekelompok ilmuwan peneliti dari institusi riset terkemuka INSEAD mempublikasikan eksperimen penelitian yang hasilnya menelurkan kesimpulan, bahwa ternyata berkenaan dalam upaya menemukan pasangan idaman maka “pejomblo” alias para pencari jodoh cenderung tanpa sadar terjebak dalam kelemahan pola pikir bersifat bawaan / kognitif orang yang muncul apabila menghadapi kondisi untuk menetapkan suatu keputusan dalam situasi yang sepertinya amat sulit atau “impossible” , a.l yakni menetapkan pilihan hati sebagai pasangan hidup, dengan menebak serampangan cara “rule of thumb”. Yang pada prakteknya praktis cuman coba-coba menerka berpatokan akal sehat : “commonsense” yang berasal dari pola pandang / persepsi “trial-and error” .

Bukan merupakan isapan jempol semata apabila dalam pengantar penelitian yang mengupas topik “value heuristic” para Peneliti lebih dahulu mengedepankan pengamatan bahwa maraknya beragam sarana pencarian jodoh pada masa kini seperti; ramainya single bar, semakin tingginya usia awal menikah, meluasnya kontak jodoh baik di surat kabar maupun dunia maya Internet, semua ini seakan mencerminkan betapa tetap tingginya keinginan manusia untuk menemukan pasangan hidup, namun celakanya betapa upaya pencarian jodoh seakan menjadi semakin sulit untuk berburu jodoh bagaikan “mission impossible”; berhubung kondisi di seputar dunia sepertinya semakin langka akan terdapatnya calon-calon pasangan menarik.
Kelompok peneliti INSEAD berkeahlian psikologi Xianchi Dai, Klaus Wertenbroch dan Miguel Brendl mengemukakan hasil penelitian dalam journal ilmiah Psychological Science edisi Januari yl. Dan pantaslah kalangan “pejomblo” berterima kasih atas hasil kajian penelitian kelompok ilmuwan INSEAD —Institusi kajian studi Manajemen bertaraf Internasional berkualitas top yang berlokasi kampus di Perancis dan Singapore— yang menyimpulkan bahwa situasi semakin langka pasangan jodoh sesungguhnya segalanya berpusar pada pandangan yang salah dalam pola pemikiran orang sendiri. Dengan menyadari akan adanya kesalahan pola pikir bawaan / kognitif seperti ini maka solusi pemecahan masalah mesti berawal dari dalam diri sendiri.
Kajian psikologis akan “value heuristic” merumuskan pandangan yang terpatri dalam pola pikir dalam jaringan syaraf otak manusia, bahwa selamanya sesuatu yang amat berharga memang akan jarang didapat di dunia. Terdapat kaitan antara kelangkaan dengan nilainya yang dianggap tinggi atau amat berharga. Contohnya bahwa emas dipandang barang yang amat berharga karena langka atau sulit mendapatkannya. Pandangan demikian pun tanpa sadar terbawa dalam hal menetapkan keputusan yang teramat penting dalam hidup seseorang dalam menemukan pasangan hidup !

Dalam eksperimen penelitian dilakukan atas sekelompok orang berusia muda diminta untuk melihat secara acak tak berurutan sejumlah 100 gambar yang terdiri atas setengahnya adalah gambar bunga dan setengah sisanya burung. Partisipan peneliti mengikuti undian sekeping uang logam guna metetapkan untuk mengamati salah satu obyek —burung atau bunga— kemudian diberitahu akan dibayar beberapa sen dollar yang dikalikan sesuai setiap jumlah obyek yang pengamatan masing-masing. Pada sesie akhir eksperimen saat akan membayarkan honor setiap responden penelitian diselidik terlebih dahulu perkiraan berapa total jumlah obyek yang sesuai dengan penugasan pengamatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa responden yang ditugaskan untuk mengamati gambar burung selalu mengemukakan, bahwa jumlah burung adalah lebih sedikit atau langka adanya. Demikian pula sebaliknya bagi responden yang mesti mengamati bunga mengemukakan pernyataan serupa. Padahal sesungguhnya jumlah keduanya adalah sama. Peneliti menyimpulkan bahwa eksperimen yang secara langsung berkaitan dengan mendapatkan penghargaan bernilai imbalan tinggi menjadikan orang kemudian salah persepsi berkenaan dengan kelangkaan.

Guna lebih meyakinkan hasil kajian, maka para peneliti melakukan eksperimen lanjutan; untuk kali ini dihadapan responden baik pria maupun wanita ditampilkan gambar pria dan wanita; yang terdiri atas sosok berpenampilan menarik ataupun biasa. Kemudian pada akhir sesie pengamatan para responden diminta menyebutkan prakiraan jumlah setiap obyek masing-masing. Dan ternyata hasilnya adalah baik pada partisipan pria atau wanita selalu menganggap jumlah gambar lawan jenisnya adalah lebih sedikit jumlah atau langka adanya jika dibanding terhadap gambar kaum sejenisnya.
Seperti halnya dengan eksperimen berilustrasi gambar burung dan bunga, para partisipan penelitian tahap lanjut ini pun cenderung terpengaruh dengan keinginan emosional atau dambaan dalam diri masing-masing, hingga akhirnya alam bawah sadarnya menilai apa yang didambakan seakan lebih langka keberadaannya.

Sumber: Ragam info up-dates. / Rizal AK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: